top of page

Musim Hujan Bisa Bikin Depresi?


Dok. Anthony Tran | Unsplash



Wajar apabila kita merasa murung atau cenderung moody di saat-saat tertentu. Namun, perlu ditelaah lebih jauh ketika kondisi mental kita merasa tidak nyaman untuk waktu tertentu, dan terjadi pada saat yang sama setiap tahunnya.


Misalnya, ketika masuk musim hujan, Anda akan merasa lebih murung dari biasanya. Dan ketika musim kemarau tiba, kondisi mood Anda kembali normal.


Apakah Anda pernah mengalami ini, ketika merasa murung, stres atau bahkan depresi di musim atau waktu tertentu, yang selalu terjadi sama setiap tahunnya? Jika Anda merasakan semangat atau energi yang lebih lemah pada musim-musim tertentu, besar kemungkinan Anda mengalami depresi musiman.


Kondisi yang umumnya disebut gangguan afektif musiman (seasonal affective disorder - SAD) ini adalah kondisi kesehatan mental sub tipe depresi klinis yang dimulai dan berakhir pada waktu yang sama setiap tahunnya.


Memang, kondisi ini lebih banyak dijumpai di negara-negara dengan empat musim, yang mana sering muncul selama akhir musim gugur atau awal musim dingin. Namun di negara tropis seperti Indonesia juga masih mungkin terjadi, yang mana banyak dirasakan ketika musim hujan tiba.


Menurut Deborah Serani, seorang profesor di University of Adelphi dan penulis buku Living with Depression, ada alasan mengapa musim yang erat kaitannya dengan suhu dingin seperti musim salju atau hujan banyak bermunculan kondisi mental berikut.


"Sinar matahari dapat membuat kita merasa lebih bersemangat. Dan ketika sinar matahari tersebut lebih sedikit terlihat di musim-musim tertentu, ini bisa mengganggu jam biologis kita yang mengakibatkan gangguan mood musiman," jelasnya.

Mengalami SAD memang bukan hal yang tabu, namun depresi musiman ini juga bisa memiliki dampak yang signifikan terhadap produktivitas kita sehari-hari. Maka dari itu, penting untuk mengenali tanda-tandanya, agar jangan sampai memengaruhi hari Anda jadi berjalan tidak baik.


Ini dia beberapa tanda SAD menurut para pakar :


1. Sedih dan murung terus menerus

Menurut Deborah, salah satu tanda SAD adalah ketika kita merasakan kesedihan terus menerus selama memasuki musim dingin atau penghujan. Dalam kondisi ini, kita juga mungkin mengalami perasaan putus asa atau tidak berdaya.


2. Nafsu makan berubah

SAD nyatanya juga dapat memengaruhi nafsu makan kita, menjadi lebih banyak menginginkan makanan yang menenangkan atau makan lebih banyak dari biasanya.


"SAD juga mencakup gejala peningkatan nafsu makan dan berujung penambahan berat badan. Umumnya jadi lebih ingin makan karbohidrat," ujar Raymond Lam, profesor dan ketua penelitian depresi di University of British Columbia.


3. Tidak menikmati kegiatan yang menyenangkan

Jika Anda tiba-tiba merasa tidak menikmati kegiatan yang sebelumnya disukai atau membuat merasa senang, mungkin Anda mengalami SAD.


"Menurunnya tingkat kesenangan, merasa hidup terasa hambar, dan perasaan apatis bisa jadi gejala ciri dari SAD," ujar Deborah.


Ditambahkan oleh Raymond, terkadang SAD juga dapat memunculkan penurunan keinginan untuk aktivitas seksual.


4. Merasa lelah terus menerus

Sudah tidur yang lama tapi tubuh tetap merasa lelah adalah salah satu tanda gejala depresi musiman. Bahkan Anda jadi cenderung sulit bangun di pagi hari atau merasa lesu seharian.


"Jika sudah tidur siang yang panjang atau bahkan tidur malam yang lama namun keesokan harinya masih merasa lelah, ini adalah gejala yang harus Anda perhatikan, karena dapat memengaruhi produktivitas sehari-hari,"


5. Mudah tersinggung dari biasanya

Pernahkah Anda menyadari bahwa pada saat-saat tertentu emosi Anda jadi lebih mudah meledak? Bisa jadi lebih mudah kesal urusan pekerjaan, mudah tersinggung dengan apa yang disampaikan pasangan.


Menurut Deborah perasaan rewel, menggerutu, argumentatif, mudah marah dan marah adalah tanda-tanda SAD.


6. Sulit berkonsentrasi

Beberapa orang yang mengalami depresi musiman mengatakan bahwa mereka jadi sangat sulit berkonsentrasi. Karena, selain kelelahan fisik, mungkin juga para pengidap mengalami kelelahan secara mental dan memiliki reaksi yang lambat terhadap sesuatu.




(*) Artikel ini juga sudah diterbitkan di www.femina.co.id

Comments


bottom of page